SAKURA GA SAKU
Aku menengadah, menyaksikan gugur kelopak emas jatuh dari pohon hijau berkambium. Jalanan sore ini sudah mulai menyepi, hanya ada sekelompok anak kampung yang menendang bola plastik dan berlari ke sana ke mari.Tuk.
Salah satu kelopak kecil itu mendarat di wajahku yang masih menengadah. Ku ambil dan ku amati. Emas, kecil, mungil, indah, jatuh sendiri...
Mataku memanas. Ah, tidak! Jangan ingat-ingat lagi, Dai! Kau tahu ada tujuannya kau pergi dan menetap di Indonesia!
"Mbak Diana, kenapa diam di situ? Bentar lagi hujan lho!" Arief, si bocah tanpa alas kaki dengan binar bintang di matanya, menarik lenganku. Aku mengangguk singkat sambil berusaha menutup jejak air mata yang sempat mengalir di pipiku.
"Iya, Dek... Kamu juga, sama yang lain, Mbak gak mau ada yang masuk angin atau demam karena main hujan-hujanan! Nanti gak boleh masuk kelas Mbak!" Ancamku. Arief dan kawannya mengangguk cepat dan buru-buru berlari ke kampung mereka.
Untunglah, ketika aku dan mungkin juga anak-anak itu, sampai di rumah, hujan turun. Cukup deras dan udara menjadi sangat dingin. Tapi aku tidak boleh berleha-leha, besok pun aku harus mengajar!
Aku tak mengajar di sebuah sekolah bernama seperti yang kalian pikirkan. Aku membentuk sekolahku sendiri, namanya 'Kitai Gakuen' alias Sekolah Harapan. Murid-muridnya juga tidak seberapa, hanya sekumpulan bocah kampung yang berdiri di atas harapan tinggi untuk mencapai mimpi. Dan kelasnya pun tak luas, hanya menggunakan garasi mobilku yang tidak ditempati karena aku memang tak punya mobil.
Mereka putus sekolah karena alasan yang bermacam-macam, malah ada yang tak mau ku ajak belajar di tempatku karena alasan pergaulan. Dari situ, aku juga mulai belajar banyak tentang kehidupan di dekat pinggir kota.
Sebagai sarjana di bidang psikologi, aku memiliki kemampuan untuk menangkap situasi di sini. Karena itu, aku tak memaksa para orang tua membayar, paling hanya sesekali membantuku kalau-kalau aku ada masalah. Lagi pula, aku malah tak begitu dekat dengan tetangga-tetanggaku di perumahanku sendiri.
Ya, aku, Dai Anna Sakura-chan, (dengan nama Indonesia Diana Yasmin) akan berusaha untuk mencapai cita-citaku juga! Aku akan menjadi penulis hebat di Indonesia!
-o0o-
"Nah, Mbak Diana kali ini ingin kalian menulis tentang Indonesia! Hayo, apa yang kalian tahu tentang Indonesia ini?"
Seluruh anak mengacungkan tangannya, setelah menimbang sejenak, aku mempersilahkan Ferni menjawab.
"Banyak tikus di mana-mana, Mbak! Di TV juga banyak! Tapi kok tikusnya gak kayak tikus sih, Mbak? Katanya berita soal tikus, tapi adanya malah gambar bapak-bapak!"
Aku menahan tawa dalam hati, tentu saja selain hama tikus, pasti Ferni juga membicarakan soal para koruptor di Indonesia. Haduh... Kasihan sekali dia sudah harus tahu soal hal itu.
Beberapa lagi menjawab berbeda. Agus bilang Indonesia itu cantik, dan kutimpali dengan, "Kalau Indonesia itu ada di antara kalian, pasti dia senang!" Sementara Arief bilang pemain bola Indonesia keren dan ia ingin jadi seperti mereka.
Lalu Reni mengacungkan tangannya, "Kalau Mbak sendiri? Di Jepang itu bagaimana, Mbak?"
Deg. Aku terdiam sebentar, bukannya tak mau menjawab, aku hanya takut aku tak bisa mengontrol emosiku saat bercerita nanti...
"Katanya di Jepang ada bunga cantik ya? Euuh... namanyaa... Sa... Saku..." Agus mencoba mengingat.
"Sakura," potongku dan Agus mengangguk, ku putuskan untuk bercerita, "Iya, di musim semi, biasanya Mbak sama Onii-chan Mbak, Onii-chan itu kakak laki-laki, akan pergi ke taman dekat rumah, di sana ada pohon sakura besar. Mbak biasa mengamati kelopak sakura jatuh, sambil memakan nasi di bawah pohon..."
"Sakura itu kayak gimana, Mbak? Reni belum pernah lihat!" Tanya Reni semangat.
"Euumm... Sakura itu, berkelopak lima, dan warnanya pink pucat atau putih, ada juga yang kuning pucat! Begini nih!" Dengan cepat, ku gores buku sketsaku dan kutunjukkan hasil gambaranku tentang Sakura.
"Wah! Bagus ya!" Decak murid-murid kagum.
Arief menyeletuk, "Di Indonesia gak ada sakura ya? Gak seru ah! Aku kan juga mau makan di bawah pohon kayak Mbak Diana!"
Aku tertawa, "Kan ada melati... Dulu di Jepang, nama mbak ada Sakura-nya, karena Orang Tua mbak suka dengan bunga lambang Jepang itu, nah sekarang mbak tinggal di Indonesia, jadi diganti deh! Jadi Yasmin! Yasmin artinya melati, melati itu kan bunga kebangsaan Indonesia, nah, ada bunga cantik di Indonesia kan?"
"Iya! Tapi pohonnya kecil kayak di halaman Pak Ustad! Mana bisa makan nasi di bawahnya!" Protes Fikri.
"Ya, kalau kalian mau makan siang di bawah pohon, ayo! Kita makan siangnya di halaman mbak saja!" Ajakku. Jam pun sudah menunjukkan pukul 12 lewat.
Anak-anak dengan semangat membawa bekal mereka, karena aku paling tidak suka mereka jajan sembarangan yang tak terjamin kebersihan dan kesehatannya. Aku sendiri yang meminta orang tua mereka membawa bekal, mau itu sedikit atau banyak, apapun itu, yang penting buatan rumah sendiri!
Kami berjalan ke halaman belakang, di sana memang tak ada pohon Sakura, tapi ada beberapa pohon rindang. Setelah mengucapkan doa, kami makan siang dengan riang.
-o0o-
"Sakura-san?"
Saat ini aku sedang berbelanja keperluan bulananku di sebuah supermarket. Aku berjengit panik saat menyadari siapa yang menyapaku dari belakang. Suara yang sudah tidak asing lagi. Dengan canggung aku berbalik dan menatap lurus ke mata abu-abu pemuda Indonesia itu.
"O-ohayou... Pratama-san... Lama tak jumpa..." Aku membungkukkan badanku hormat dan dia melakukan hal yang sama.
Orang ini, Pratama Kharisma, dulu satu kuliah denganku, beda jurusan, ia mengambil kedokteran selama 7 tahun. Aneh, aku pikir dia akan menetap di Jepang... Itu alasanku pergi bukan?
"Ohayou gozaimasu... Sakura-san sedang apa di Indonesia? Kuliahnya sudah selesai bukan?"
"Yya... A-aku, memutuskan tinggal di Indonesia... Untuk sementara..."
Pratama tak yakin dengan jawabanku yang memang terdengar ragu, "Oh? Bagaimana kabar KazuNii?" Dia menanyakan kabar kakakku...
"A-ah... KazuNii-chan... Baik... Bukannya kau masih berhubungan dengannya?"
"Sudah lama sekali... Sejak saat itu..." Wajahnya tertunduk sedikit. Ya, dulu ia sempat bermasalah dengan KazuNii yang seorang polisi karena ia nyaris ketahuan menjual narkotika secara ilegal di Shibuya, tempat kami kuliah. Tapi kemudian ia dibebaskan.
"Hontou ni?" tanyaku iseng. Tapi sepertinya ia serius, terlihat dari wajahnya.
"Yes, Shinjitekure!"
Ah, ya sudah, itukan memang masa lalu... Ku putuskan untuk reuni sebentar dengannya di sebuah cafe.
"Wah, jadi sekarang Yozuo-san menjadi arsitek ya? Subarashii... Dan Iino-chan jadi model dan penyanyi... Wah... Aku jadi kangen waktu kita berempat duduk di taman belakang kampus!" Ingat Pratama seraya tertawa. Aku ikut tersenyum melihatnya, rasanya sudah lama sekali... Aku tidak melihat senyum itu...
"Uhm! Kau sendiri? Berhasil menjadi dokter?" Tanyaku.
"Hai'! Aku membuka klinik di rumahku. Kau?"
Aku memilin ujung kemejaku, "Errr... Guru... Dan.... Psikolog di sebuah perumahan. Tak begitu besar sih... Tapi cukup."
"Oh... Boleh aku berkunjung?"
Aku memberi anggukan singkat.
-o0o-
"Semua, ini kawan mbak dari Indonesia, tapi dia sekolah di Jepang, namanya Pratama Kharisma, panggil Kak Prata aja ya?" Kenalku kepada murid-muridku di kelas.
"Salam kenal semua..."
"Salam kenal, Kak Prata!" Jawab murid-murid koor.
"Nah, sudah kenalannya, sekarang mbak mau ngajarin cara perkalian ala orang jepang! Caranya begini..." Ku terangkan pelajaran di papan tulis. Dan selama itu pula, Pratama memandangiku tanpa henti...
"Mbak Diana... Ayo makan bareng lagi di belakanggg~" Rengek Ferni dan Reni.
Tiba-tiba kedua gadis cilik itu ditarik oleh Arief dan Agus. Dan setelah berbisik-bisik, mereka tersenyum manis padaku dan lari ke belakang menyusul teman-teman mereka di sana. Aku hanya bisa memandang bingung.
"Kenapa mereka? Ah, sudah deh, ayo, Pratama~!" Ku gandeng lengannya dan berjalan ke halaman belakang. Ku sadari, tangan Pratama tiba-tiba bergetar dalam gandenganku, tapi aku hanya cuek.
-o0o-
Sudah seminggu ini Pratama menjadi pengunjung tetap Kitaikuen, selama itu juga ia sering memberi pelajaran singkat soal kesehatan atau membagi-bagikan snack.
Pagi ini hari minggu, dan kata Ibu, suratnya dari Jepang akan sampai hari ini! Wah, akan ku cek kotak posku....
"A-ah!" Dengan panik aku menutup mataku, tapi sebelum itu, tubuhku sudah ambruk duluan di tanah. Dan seseorang berteriak panik.
"Dai-chan!"
-TO BE CONTINUED-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar